Monday, February 4, 2013

Apa sih Tanaman Khat itu ?


 Pohon khat yang banyak ditanam di Puncak, Bogor, Jawa Barat sejak 10 tahun terakhir ternyata menjadi lalapan favorit orang Arab.
Pucuk daun tanaman ini biasa dikomsumsi turis dari Timur Tengah sebagai lalapan dan obat pembakar lemak.
Pohon khat adalah tanaman yang daunnya dipakai untuk membuat narkoba jenis katinona. Narkoba jenis ini ditemukan di kediaman artis Raffi Ahmad saat BNN menggerebek rumahnya, 
Pucuk daun khat dijual sekitar Rp 30-Rp 50 ribu untuk seperempat kilogram. Sedangkan 1 kilogram daun ini harganya bisa mencapai Rp 200-Rp 300 ribu.
Sekitar 3 tahun lalu harga seperempat kilogram pucuk daun khat bisa mencapai Rp 100 ribu. Namun, karena sudah semakin banyak warga yang menanamnya, harganya menjadi turun.
Beberapa warga Cisarua memang sudah menanam pohon khat di pekarangan rumahnya. Namun, setelah BNN menyatakan daun khat merupakan bahan pembuat narkoba,  secara sukarela mencabuti tanaman itu.

Cathinone (S-alpha-aminopropophenone) adalah nama bahan aktif berwujud kristal yang bisa diekstrak dari tumbuhan asli Afrika yang bernama Latin Catha edulis dengan sinonim Catha forskalii, Catha glauca, Celestrus edulis, dan Methyscophyllum glaucum. Tumbuhan ini memiliki banyak nama lokal, diantaranya menggambarkan asal kata dari mana nama Latinnya dibuat yaitu: cat, catha, ciat, khat, kaad, dan kafta.

Menariknya, tumbuhan ini juga memiliki beberapa julukan yang menggambarkan nilai ekonomi tumbuhan yang tersebar luas di Afrika Timur hingga kawasan Selatan Semenanjung Arabia tersebut, seperti: Abyssinian tea, African salad, African tea, Arabian tea, Bushman,s tea, dan Somali tea.
Karena bernilai ekonomi tinggi itu maka di beberapa negeri Afrika seperti Kenya, Malawi, Uganda, Tanzania, Congo, Rhodesia, Afrika Selatan, dan beberapa negeri Arab menjadikan Catha edulis sebagai tanaman budidaya.
Specimen segar tanaman ini bahkan diekspor hingga ke berbagai kota Amerika Serikat seperti: New York, Los Angeles, Dallas, Boston dan Detroit. Di Amerika tanaman Khat yang sudah dikemas anti layu biasa dijual di restoran, bar, dan toko kelontong yang bisa melayani imigran asal Afrika Timur dan Yaman Penggunaan kata “tea” untuk julukan tumbuhan ini (African tea, Arabian tea, Bushman,s tea, dan Somali tea) jelas mengindikasikan bahwa tumbuhan ini adalah tumbuhan yang biasa dijadikan bahan pencampur minuman.
Di Yaman, misalnya, bunga Catha edulis sudah dijadikan bahan minum penyegar jauh sebelum kopi dikenal. Di negeri yang terletak di selatan semenanjung Arab itu tumbuhan Khat dijuluki sebagai the flower of paradise.
Tidak sulit menduga mengapa Catha edulis dijuluki flower of paradise (bunga surga). Tumbuhan ini sudah lama diketahui bisa menimbulkan halusinasi bila dikonsumsi. Dalam keadaan terhalusinasi seseorang bisa merasakan beragam sensasi yang sulit dideskripsikan, melampaui ruang dan waktu. Wajarlah bila kemudian yang bersangkutan (pemakai) merasa berada di surga.
Pengalaman terhalusinasi itulah agaknya yang menjadikan orang-orang primitive beranggapan bahwa sesuatu (tanaman Khat) yang bisa membawa mereka “menembus” ruang dan waktu itu sebagai sesuatu yang sakral. Klaim itu pulalah agaknya yang mendorong Klaus Trenary menyebut Catha edulis sebagai Sacred Plant of the Ancient Egyptians.
Sebelum sampai ke tahap terhalusasi, cathinone bisa menimbulkan eksitasi (bergairah), bersemangat, bertenaga, bugar, dan riang. Sensasi inilah tampaknya yang diburu oleh para konsumen minuman Teh Arab ini di daerah asalnya, dan para pemakai kristal cathinone di mancanegara, termasuk di Indonesia.
Karena khat mengandung senyawa ephedrinelike [Amfetamin]. Rupanya itu untuk menghasilkan eksitasi, menghalau tidur, dan meningkatkan komunikasi. Itu digunakan sebagai stimulan untuk menghilangkan rasa lapar dan kelelahan.
Penduduk asli sana mengunyah tunas muda dan daun segar Catha edulis (Celastrus Edulis). Ini adalah semak besar yang dapat tumbuh menjadi pohon
ukuran besar. Ini berasal di Ethiopia dan menyebar sampai penggunaannya hingga Kenya, Malawi, Uganda, Tanzania, Saudi, Kongo, Zimbabwe dan Zambia, dan Afrika Selatan. Khat digunakan di Yaman bahkan sebelum kopi dan itu sangat populer.
Khat mengandung Katin (d-norisoephedrine), cathidine, dan cathinine. Katin juga merupakan salah satu alkaloid yang ditemukan di Ephedra vulgaris. Sekarang beruntung, mungkin, khat yang juga sangat kaya akan asam askorbat.
Pada hewan, khat mampu meningkatkan eksitasi dan aktivitas motorik. Di manusia, itu adalah stimulan yang menghasilkan perasaan peninggian, perasaan yang dibebaskan dari ruang dan waktu. Ini dapat menghasilkan rasa senang ekstrim, tertawa, dan akhirnya semicoma. Ini juga mungkin merupakan euphorient dan digunakan secara kronis dapat menyebabkan bentuk tremens delirium.
Galkin dan Mironychev (1964) melaporkan bahwa hingga 80% dari populasi orang dewasa dari khat penggunaan Yaman. Setelah mengunyah khat pertama, efek awal adalah menyenangkan dan termasuk pusing, kelelahan, takikardia, dan kadang-kadang nyeri epigastrium. Perasaan secara bertahap lebih menyenangkan diganti tersebut perdana gejala. Subyek memiliki perasaan kebahagiaan, kejelasan berpikir, dan menjadi gembira dan terlalu energik.
Kadang-kadang Khat diproduksi depresi, mengantuk, dan kemudian tidur nyenyak. Pengguna kronis cenderung gembira terus. Dalam kasus yang jarang menjadi subyek agresif dan terlalu girang. Galkin dan rekannya mengamati 51 subyek yang telah diambil khat. Dari jumlah tersebut, 27 menjadi bersemangat, 18 menjadi mengantuk, dan 6 tetap tidak berubah. Tingkat pernapasan dan denyut nadi Tingkat dipercepat dan tekanan darah cenderung meningkat. Itu subjek juga mengalami penurunan kapasitas fungsional kardiovaskular sistem.
Daun Khat segar merah-coklat dan mengkilap, tapi menjadi kuning-hijau dan kasar dengan bertambahnya usia mereka. Mereka juga memancarkan bau yang kuat. Yang paling Bagian favorit dari daun tunas muda di dekat bagian atas tanaman. Namun, daun dan batang pada bagian tengah dan bawah juga biasa digunakan.
Bahaya kesehatan Khat adalah menyebabkan sembelit yang parah. Pengguna kronis sering dalam keadaan konstan euforia waspada, tapi kadang-kadang bisa menjadi gelisah dan agresif. Ada laporan berdasar penggunaan tinggi Khat menyebabkan kanker. Persentase yang tinggi dari tanin hadir dalam daun dapat berkontribusi pada risiko kanker mulut dan saluran pencernaan jika digunakan secara teratur. Dalam kasus yang jarang menelan Khat dapat menyebabkan depresi atau kelesuan dan tidur nyenyak. Penggunaan berlebihan Khat selama jangka waktu yang telah diketahui menyebabkan dorongan seks menurun pada laki-laki.
Apakah anda masih ingin mencoba….???

Thursday, January 31, 2013

PCD dalam Kick Andy

Polisi Cilik Pentas di HUT BRI ke 117

Polisi Cilik Dermayu - Indramayu pentas pada acara HUT BRI ke 117 di Jakarta
 

Polisi Cilik Dermayu-Indramayu Pentas di Karnaval Keprajuritan

Inilah aksi Polisi Cilik Dermayu saat pentas di TMII, dalam rangka hari keprajuritan Nasional 5 Nopember 2012.

Polisi Cilik Dermayu Indramayu Pentas di Taman Mini

Ini Aksi Polisi Cilik Dermayu-Indramayu pentas di TMII dalam rangka undangan ASTRA tahun 2012

Bagian 1


Bagian 2

Polisi Cilik Dermayu Pentas di POLDA Banten

Inilah Aksi Polisi Cilik Dermayu- Kabupaten Indramayu saat pentas di Apel Besar Anak Bangsa di Polda Banten



Thursday, January 3, 2013

SIAPAKAH GENERASI Y


“Mereka tak sama seperti kita dulu, dibesarkan dalam kesenangan, tak tahu kerja keras, tahunya hanya protes.”
“Dirusak oleh teknologi, lebih banyak bermain daripada bekerja.”
“Pindah kerja seenaknya. Tidak loyal… Mereka di sini bukan untuk membantu, tapi membuat masalah."  Itulah ungkapan yang sering muncul saat sekelompok senior berkumpul membahas para eksekutif muda atau karyawan baru. Yang terdengar lebih banyak keluhan daripada pujian.

Walaupun generasi ini terlihat pintar, agresif, dan senantiasa mau mencoba tetapi sikap mereka membuat manajemen khususnya bagian SDM sakit kepala! Mereka orang muda yang berani, bersemangat tetapi sering dianggap kurang ajar dan tidak tahu sopan santun. Baru seminggu bekerja, tanpa malu sudah berusaha minta fasilitas lebih, dan bahkan mau dan berani mengubah cara pengelolaan perusahaan. Mereka memang hebat dengan kemahiran multi tasking; sambil membalas email melalui iPad, masih bisa membalas pesan BlackBerry, juga pada waktu yang sama mereka  melakukan deal business melalui telefon! Mereka memakai jeans ke kantor dan iPod di telinga, diragukan apakah benar-benar bekerja? Di mana disiplin dan keseriusan yang selama ini sangat penting dalam ‘budaya’ perusahaan?

Apabila tepat jam 5 sore, mereka akan bergegas pulang untuk aktivitas pribadi seperti bermain futsal, fitness atau sekadar kongkow bersama teman-temannya. Kerja lembur? Tidak! Bagi mereka hal itu tanda gagal mengurus waktu dan kurang gesit menyelesaikan pekerjaan!
Akhir pekan, mereka biasanya sudah punya rencana libur bersama teman atau melakukan hobi sendiri. Namun mereka tidak menolak untuk menyelesaikan pekerjaan dari rumah atau dari tempat liburan, asal saja ada jaringan internet, pekerjaan dapat mereka selesaikan dengan baik tanpa perlu rapat demi rapat. Mereka memang sangat berbeda, karena itu mereka sering dikritik tapi mereka senang mengkritik.

Inilah fenomena yang sedang melanda dunia -gelombang baru perubahan yang dibawa oleh anak-anak muda yang mulai memasuki dunia pekerjaan. Jika Anda senior di perusahan, maka bersiaplah untuk berhadapan dengan mereka. Cara berpikir, cara pandang, cara hidup, juga cara mereka menentukan prioritas dan mendefinisikan kesuksesan sangat berbeda. Menurut Bruce Tulgan, penulis New Haven, “Para korporasi harus mulai bersiap-siap karena generasi ini --yang mencapai usia 30-– adalah sangat  berbeda dibanding generasi sebelumnya.”

Siapa Sesungguhnya Mereka?
Mereka dikenali sebagai Generasi Y (baca: generasi way), atau ada juga yang menggelarinya sebagai echo boomer dan millennials. Ada yang mengatakan, mereka lahir sekitar tahun1977-2002. Ada juga yang berpendapat, sekitar tahun 80an hingga tahun 2005. Namun yang jelas mereka adalah generasi baru yaitu anak-anak dari Generasi Baby Boomer yang hidup setelah Perang Dunia Kedua, atau cucu generasi setelah perang dunia kedua.
“Generasi Y ini dibesarkan dalam lingkungan yang sangat menitikberatkan anak-anak. Generasi ini diprogram dan dibentuk,” kata Cathy O’Neil, VP senior di perusahaan pengelolaan SDM Lee Hecht Harrison di Woodcliff Lake, New Jersey.“Keinginan mereka berbeda. Generasi millennium ini menunggu untuk mendapat masukan dari hasil kerja mereka.”

Dari kecil mereka diajari berpikir terbuka dan bebas menyuarakan pandangan dan keinginan mereka. Guru-guru dan orangtua membentuk generasi ini bebas berpikir, sering diberi feedback, pujian, dan dorongan. Mereka dibesarkan di zaman yang paling ‘aman’ dalam sejarah dan layak mengharapkan lebih banyak dari generasi sebelumnya. Bukan sekadar kebendaan, juga tempat kerja yang menawarkan peluang yang tidak terbatas. Hasilnya mereka sangat percaya diri, berani bersuara, dan tidak malu menyatakan pandangan.

Namun ini menjadikan mereka generasi yang tidak lagi hanya memikirkan uang semata. Mereka inginkan keadilan di dalam menilai pekerjaan mereka dan dihargai tidak hanya dengan gaji. Mereka dibesarkan dengan pujian dan penghargaan, kerana itu jika tidak mendapat feedback secara rutin dari atasan, mereka bisa merasa tidak dihargai dan akan pergi meninggalkan organisasi walaupun gaji yang ditawarkan tinggi. Mereka juga tidak akan menghormati seseorang hanya karena jabatan atau senioritas. Mereka hanya akan menghormati orang yang memperlihatkan sikap hormat kepada mereka. Kesetiaan bagi mereka tidak hanya dibangun dari bawah ke atas tetapi juga harus dari atas ke bawah.

Generasi anak-anak muda ini adalah wajah dunia masa depan, bercita-cita tinggi, kaya ide, ketagihan perubahan, berani dan seolah mampu melakukan apa  saja, kecuali satu… mengikut apa yang diarahkan tanpa sebab!  Menurut Jordan Kaplan, seorang professor sains pengelolaan di Long Island University-Brooklyn, New York, “Generasi Y sangat kurang mempercayai  manajemen konservatif ala command- dan - ala control. Namun, cara manajemen tersebut masih popular di tempat kerja saat ini”. Ia juga menambahkan, “Mereka dibesarkan bebas bertanya dan mempersoalkan orangtua, saat besar mereka juga akan merasa nyaman untuk bertanya dan mempersoalkan atasan. Ini sesungguhnya bagus tetapi hal itu akan mencemaskan manager yang berusia 50 tahun yang mana kebiasaannya hanya mengeluarkan arahan, ‘lakukan dan lakukannya sekarang!’”

Solusi

Sudah saatnya para pemimpin korporasi memikirkan hal ini dengan serius. Semua hal berubah. Begitu juga cara dalam menghadapi para pekerja baru yang memasuki dunia pekerjaan. Mereka tentu tidak sama seperti generasi 20 tahun lalu. Nilai-nilai yang dibawa oleh golongan muda ini seperti kecepatan, flexible, innovasi dan goal oriented, semua harus kita terima dan disesuaikan di dalam korporasi. Cara pengelolaan lama yang kurang fleksibel harus segera diubah untuk menyesuaikan diri dengan tenaga muda yang sedang haus mencari peluang untuk mengembangkan ide dan inovasi.

Namun semua itu belum cukup. Kunci keberhasilan jangka panjang dan kelangsungan sebuah perusahaan atau organisasi adalah bagaimana memotivasi dan membentuk talent-talent muda yang akan membawa Anda menguasai  masa depan. Bagaimana kita dapat memotivasi secara mendalam generasi yang terlihat sangat berbeda dengan kita ini? Bagaimana menanamkan nilai-nilai mulia yang selama ini kita pertahankan di perusahan seperti  integritas, kesetiaan, dan kebersamaan? Apa upaya yang harus dilakukan supaya terwujud kesefahaman antar generasi dan dapat bekerja dalam sebuah pasukan yang saling memahami?

Inilah yang sedang kami lakukan di Pertamina, Telkom, dan BRI, yaitu melatih dan membentuk value karyawan baru (generasi Y) yang sedang membanjiri berbagai koorporasi di Indonesia. Kita harus berhasil mentransfer tentang misi kehidupan, tentang nilai, dan tentang makna, yang selama ini tidak pernah diajarkan kepada mereka. Mereka rajin dan kuat bekerja tetapi tidak mau pekerjaan menguasai kehidupan mereka. Bekerja bagi mereka bukan segalanya, tetapi hanya sebagian dari kehidupan yang perlu dijalani. Mereka sesungguhnya memerlukan lebih dari sekadar gaji dan penghargaan.

Ingatlah, sesungguhnya bukan mereka berada di zaman kita, tapi kitalah yang sebenarnya hidup di zaman mereka. Sudah siapkah kita?

DR HC Ary Ginanjar Agustian, Founder ESQ LC