Showing posts with label Perum Perhutani. Show all posts
Showing posts with label Perum Perhutani. Show all posts

Tuesday, June 26, 2018

Mengenal Pinus


Hutan merupakan sumber kekayaan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kelangsungan dan kelestariannya tergantung pada sikap dan tindakan manusia dalam memanfaatkan potensi hutan tersebut.

Selain itu hutan pun dapat menghasilkan tanaman yang bermanfaat bagi manusia, contohnya saja tanaman pinus. Tanaman pinus ini memiliki peranan yang penting, sebab selain sebagai tanaman pioner, pohon pinus  juga menghasilkan getah yang diolah lebih lanjut akan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Getah yang dihasilkan oleh pinus yaitu gondorukem dan terpentin yang dipergunakan dalam industri batik, plastik, sabun, tinta cetak, bahan plitur, dan sebagainya, sedangkan terpentin digunakan sebagai bahan pelarut cat.

Produktivitas getah dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal berupa tempat tumbuh serta tindakan dalam pemeliharaan hutan yang berpengaruh produksi getah secara langsung atau tidak langsung. Salah satu aspek aspek eksternal yang berpengaruh ialah tenaga penyadap itu sendiri antara lain usia penyadap, keterampilan penyadap, dan pengalaman penyadap. Sedangkan faktor internal berupa faktor biologi pohon.

Dengan makin pesatnya perkembangan dan makin meningkat nya kebutuhan manusia, maka prospek gondorukem dan terpentin untuk industri sangat cerah, sehingga peranan hutan pinus sebagai penyuplai industri gondorukem dan terpentin harus tetap lestari. Produksi gondorukem untuk keperluan industri di Indonesia masih kurang, maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu diadakan peningkatan produksi getah pinus.

Salah satu aspek yang berperan dalam usaha meningkatkan dan melancarkan produksi getah pinus adalah tenaga penyadap. Tenaga penyadap tidak sepenuhnya bekerja pada penyadapan dalam arti menyadap hanya merupakan pekerjaan sampingan, sehingga akan mempengaruhi tingkat produksi getah pinus. Hal tersebut akan mengakibatkan potensi getah pinus tidak tergarap dengan maksimal.

Akan tetapi, pada saat ini pihak Perhutani memberikan kebijakan kepada penyadap dengan memberi areal sadapan yang disesuaikan dengan kemampuan penyadap yaitu berkisar antara dua sampai lima hektar. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui berapa jumlah pohon yang optimal yang sebaiknya diberikan kepada penyadap berdasarkan kemampuan masing-masing penyadap.


Di Indonesia secara alami hanya terdapat satu jenis pinus yaitu Pinus merkusii di Sumatera bagian utara (sekitar Aceh dan Tapanuli). Selain di Indonesia Pinus merkusii juga dijumpai di Vietnam, kamboja, Thailand, Burma, India dan Philipina. Secara geografis tersebar antara 20 LS-220 dan 95030’ BB-120031.

Pinus merkusii tidak meminta syarat tumbuh yang tinggi terhadap tempat tumbuh, namun pertumbuhannya dipengaruhi berbagai factor seperti tanah, iklim, dan altitude. Untuk menghasilkan pertumbuhan yang baik, pinus membutuhkan :
  1. Ketunggian tempat tumbuh 200-2000 mdpl.
  2. Temperatur udara berkisar 180-300 C.
  3. Reaksi tanah (pH) berkisar antara 4,5-5,5.
  4. Bulan basah (5-6 bulan) yang diselingi dengan bulan kering yang pendek (3-4 bulan).

Penyebaran Pinus spp meliputi daerah Eurasia dan Amerika. Menurut data yang tersedia tahun 1967 suku Pinus memiliki lebih kurang 107 jenis yang tersebar secara alami di berbagai tempat tumbuh yang berbeda-beda di benua Eropa, Afrika dan Asia. Di Asia terdapat lebih kurang 28 jenis, diantaranya 3-7 jenis terdapat di Asia Tenggara antara lain Pinus merkusii, Pinus kaysia, Pinus insularis.

Getah Pinus

Getah yang dihasilkan pohon Pinus merkusii digolongkan sebagai oleoresin yang merupakan cairan asam-asam resin dalam terpentin yang menetes keluar apabila saluran resin pada kayu atau kulit pohon jenis jarum tersayat atau pecah. Penamaan oleoresin ini dipakai untuk membedakan getah pinus dari getah alamiah (natural resin) yang muncul kulit atau terdapat dalam rongga-rongga jaringan kayu sebagai genus dari anggota famili Dipterocarpaceae, Leguminoceae, dan Caesalpiniaceae.

Getah yang berasal dari pohon Pinus berwarna kuning pekat dan lengket, yang terdii dari campuran bahan kimia yang kompleks. Unsur-unsur terpenting yang menyusun getah pinus adalah asam terpen dan asam abietic. Campuran bahan tersebut larut dalam alcohol, bensin, ether, dan sejumlah pelarut organic lainnya, tetapi tidak larut dalam air. Selain itu dari hasil penyulingan getah Pinus merkusii rata-rata dihasilkan 64% gondorukem, 22,5% terpentin, dan 12,5% kotoran.

Saluran getah resin bukan merupakan bagian dari kayu, tetapi berupa rongga yang dikelilingi oleh sel-sel parenkimatis atau sel epitel. Seluruh lapisan yang mengelilingi saluran resin disebut epitellium.

Tusam atau pinus adalah sebutan bagi sekelompok tumbuhan yang semuanya tergabung dalam marga Pinus. Di Indonesia penyebutan tusam atau pinus biasanya ditujukan pada tusam Sumatera (Pinus merkusii Jungh. et deVries).
Tusam kebanyakan bersifat berumah satu (monoecious), yaitu dalam satu tumbuhan terdapat organ jantan dan betina namun terpisah, meskipun beberapa spesies bersifat setengah berumah dua (sub-dioecious).
Nama-nama umum di beberapa negara adalah:
  • Filipina: Mindoro Pinus, Tapulau (Sambali, Tagalog)
  • Indonesia: Damar Bunga
  • Thailand: Anak-haang-maa
  • Vietnam: Th[oo]ng l hai

SELENGKAPNYA TENTANG PINUS
Pinus merkusii merupakan satu-satunya jenis pinus yang tumbuh asli di Indonesia.  P. merkusii termasuk dalam jenis pohon serba guna yang terus-menerus dikembangkan dan diperluas penanamannya pada masa mendatang untuk penghasil kayu, produksi getah, dan konservasi lahan. Hampir semua bagian pohonnya dapat dimanfaatkan, antara lain bagian batangnya dapat disadap untuk diambil getahnya. Getah tersebut diproses lebih lanjut menjadi gondorukem dan terpentin. Gondorukem dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat sabun, resin dan cat. Terpentin digunakan untuk bahan industry parfum, obat-obatan, dan desinfektan. Hasil kayunya bermanfaat untuk konstruksi, korek api, pulp, dan kertas serat panjang. Bagian kulitnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan abunya digunakan untuk bahan campuran pupuk, karena mengandung kalium

Manfaat
P. merkusii Jungh et De Vriese atau sering disebut tusam merupakan salah satu jenis pohon industri yang mempunyai nilai produksi tinggi dan merupakan salah satu prioritas jenis untuk reboisasi terutama di luar pulau Jawa. Di pulau Jawa, pinus atau tusam dikenal sebagai penghasil kayu, resin dan gondorukem yang dapat diolah lebih lanjut sehingga mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi seperti produksi α pinen.

Kelemahan dari P. merkusii adalah peka terhadap kebakaran, karena menghasilkan serasah daun yang tidak mudah membusuk secara alami. Kebakaran hutan umumnya terjadi pada saat musim kemarau, karena saat itu kandungan air, baik pada ranting-ranting dan serasah di lantai hutan maupun pada pohon menjadi berkurang sehingga kemungkinan untuk mengalami kebakaran menjadi lebih besar. Selain itu, produksi serasah pinus termasuk tinggi, yaitu sebesar 12,56-16,65 ton/hektar.
 
Menurut Harahap dan Izudin (2002) kegunaan P. merkusii untuk bangunan perumahan, lantai, mebel, kotak, korek api, pulp, tiang listrik, papan wol kayu, resin, gondorukem, dan kayu lapis
Selain itu, kegunaan pinus sangat banyak, antara lain kayunya dapat digunakan untuk triplek, venir, pulp, sutra tiruan, dan bahan pelarut. Getahnya dapat dijadikan gondorukem, sabun, perekat, cat dan kosmetik. Daur panen untuk kebutuhan pulp 12 tahun dan non pulp 20 tahun.

P. merkusii umumnya ditanam untuk produksi kayu pertukangan, disamping itu pohonnya juga disadap untuk menghasilkan terpentin dan gondorukem. Peningkatan kelurusan batang dan volume masih merupakan sifat-sifat penting yang perlu dimuliakan. Nilai heritabilitas bentuk batang umumnya moderat, demikian pula untuk diameter.

Korelasi genetik antara bentuk batang dan diameter bervariasi dari rendah positif ke moderat negatif. Korelasi genetik antara tinggi dan diameter umumnya moderat sampai tinggi positif

BOTANI PINUS
Tata Nama
Pinus merkusii Jungh et de Vriese termasuk suku Pinaceae, sinonim dengan P. sylvestri auct. Non. L, P. sumatrana Jung, P. finlaysoniana Blume, P. latteri Mason, P. merkusii var. tonkinensis, P. merkusiana Cooling & Gaussen.

Nama daerah : Damar Batu, Huyam, Kayu Sala, Sugi, Tusam (Sumatera), Pinus (Jawa), Sral (Kamboja), Thong Mu (Vietnam), Tingyu (Burma), Tapusan (Filipina), Indochina Pine, Sumatra Pine, Merkus Pine (Amerika Serikat, Inggris) dan lain-lain (Harahap dan Izudin, 2002).

Deskripsi
P. merkusii Jungh et de Vriese pertama sekali ditemukan dengan nama tusam di daerah Sipirok, Tapanuli Selatan oleh seorang ahli botani dari Jerman - Dr. F. R. Junghuhn - pada tahun 1841. Jenis ini tergolong jenis cepat tumbuh dan tidak membutuhkan persyaratan khusus. Keistimewaan jenis ini antara lain merupakan satu-satunya jenis pinus yang menyebar secara alami ke selatan khatulistiwa sampai melewati 20 LS .

Tinggi
P. merkusii Jung. & De Vr. dapat mencapai 20-40 m. Daunnya dalam berkas dua dan berkas jarum (sebetulnya adalah tunas yang sangat pendek yang tidak pernah tumbuh) pada pangkalnya dikelilingi oleh suatu sarung dari sisik yang berupa selaput tipis panjangnya sekitar 0,5 cm. Bunga jantan panjangnya sekitar 2 cm, pada pangkal tunas yang muda, tertumpuk berbentuk bulir. Bunga betina terkumpul dalam jumlah kecil pada ujung tunas yang muda, selindris, dan sedikit berbangun telur,
kerapkali bengkok. Sisik kerucut buah dengan perisai ujung berbentuk jajaran genjang, akhirnya merenggang; kerucut buah panjangnya 7-10 cm. Biji pipih berbentuk bulat telur, panjang 6-7 mm, pada tepi luar dengan sayap besar, mudah lepas (Steenis, 2003).

Tinggi P. merkusii dapat mencapai 20-40 m dengan diameter 100 cm dan batang bebas cabang 2-23 m. Pinus tidak berbanir, kulit luar kasar berwarna coklat kelabu sampai coklat tua, tidak mengelupas dan beralur lebar serta dalam. Kayu pinus berwarna coklat-kuning muda, berat jenis rata-rata 0,55 dan termasuk kelas kuat III serta kelas awet IV.

Pohon pinus berbunga dan berbuah sepanjang tahun, terutama pada bulan Juli- November. Biji yang baik warna kulitnya kering kecoklatan, bentuk bijinya bulat, padat, dan tidak berkerut. Jumlah biji kering 57.900 butir per kg atau 31.000 butir/l

Serasah pinus akan terdekomposisi secara alami dalam waktu 8-9 tahun.  Serasah pinus merupakan serasah daun jarum yang mempunyai kandungan lignin dan ekstraktif tinggi serta bersifat asam, sehingga sulit untuk dirombak oleh mikroorganisme

Syarat Tumbuh
P. merkusii dapat tumbuh pada tanah yang kurang subur, tanah berpasir, tanah berbatu dengan curah hujan tipe A-C pada ketinggian 200-1.700 mdpl. Di hutan alam masih banyak ditemukan pohon besar berukuran tinggi 70 m dengan diameter 170 cm.

P. merkusii  termasuk famili Pinaceae, tumbuh secara alami di Aceh, Sumatera Utara, dan Gunung Kerinci. P. merkusii mempunyai sifat pioner yaitu dapat tumbuh baik pada tanah yang kurang subur seperti padang alang-alang. Di Indonesia, P. merkusii dapat tumbuh pada ketinggian antara 200-2.000 mdpl. Pertumbuhan optimal dicapai pada ketinggian antara 400-1.500 mdpl (Khaerudin, 1999).

Penyebaran
P. merkusii tersebar di Asia Tenggara antara lain Burma, Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Filipina.

P. merkusii atau tusam merupakan satu-satunya jenis pinus asli Indonesia. Di daerah Sumatera, tegakan pinus alam dapat dibagi ke dalam tiga strain , yaitu :

1. Strain Aceh, penyebarannya dari pegunungan Selawah Agam sampai sekitar Taman Nasional Gunung Leuser. Dari sini menyebar ke selatan mengikuti pegunungan Bukit Barisan lebih kurang 300 km melalui Danau Laut Tawar, Uwak, Blangkejeren sampai ke Kotacane. Di daerah ini tegakan pinus pada umumnya terdapat pada ketinggian 800 – 2000 mdpl.

2. Strain Tapanuli, menyebar di daerah Tapanuli ke selatan Danau Toba. Tegakan pinus alami yang umum terdapat di pegunungan Dolok Tusam dan Dolok Pardomuan. Di pegunungan Dolok Saut, pinus bercampur dengan jenis daun lebar. Di daerah ini tegakan pinus terdapat pada ketinggian 1000 – 1500 mdpl

3. Strain Kerinci, menyebar di sekitar pegunungan Kerinci. Tegakan pinus alami yang luas terdapat antar Bukit Tapan dan Sungai Penuh. Di daerah ini tegakan pinus tumbuh secara alami umumnya pada ketinggian 1500 – 2000 mdpl

Menurut catatan, P. merkusii yang ditanam di Indonesia benihnya berasal dari Aceh atau asal mulanya dari Blangkejeren, sedangkan asal Tapanuli dan Kerinci belum dikembangkan. Pernah dicoba menanam P. merkusii asal Tapanuli di Aek Nauli, tetapi karena serangan Milionia basalis akhirnya tidak dilanjutkan pengembangannya. Padahal menurut pengamatan dengan mata telanjang banyak kelebihan atau perbedaan baik sifat maupun pertumbuhan pohon dari ketiga populasi tersebut. Tampaknya bentuk pohon yang ada di Aceh lebih bengkok-bengkok bila dibandingkan dengan yang ada di Tapanuli dan Kerinci.

Kadar terpentin berbeda seperti dalam hal kandungan monoterpenenya. Kadar delta-3-carene lebih tinggi dari alpha pinene yang berlawanan dengan keterangan dalam pustaka selama ini, kecuali untuk Tapanuli. Seandainya diperoleh kadar delta-3-carene yang tinggi di Tapanuli maka akan tampak adanya variasi klinal menurut garis lintang dari utara ke selatan. Kadar limonene terdapat lebih tinggi di Tapanuli, demikian pula untuk alpha pinene. Dengan demikian variasi ekotipik lebih jelas terdapat pada P. merkusii  bahwa komposisi asam gondorukem pada ketiga populasi yang ditelitinya (Aceh, Tapanuli dan Kerinci) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dan lain halnya dengan komposisi terpentinnya.

Kandungan alpha pinene dan delta-3-carene sangat tinggi pada ketiga populasi. Pengetahuan variasi geografis sangat penting dalam rangka pemuliaan suatu jenispohon. Zobel dan Talbert (1984) mengemukakan bahwa program pemuliaan pohon hampir sebanyak 30 persen gagal karena tidak memperhatikan adanya variasi geografis.

Contohnya adalah introduksi Pinus oocarpa yang mulanya gagal di Amerika Selatan tidak lain disebabkan oleh karena asal benih yang dipakai dalam pengujian memang tidak akan tumbuh optimal di Amerika Selatan. Setelah dicoba jenis yang sama dengan benih dari lokasi yang lain ternyata jenis tersebut dapat tumbuh optimal.

Gondorukem
Gondorukem adalah getah dari pohon Pinus (Pinus merkusii) yang kemudian diolah menjadi gondorukem.  Gondorukem diperdagangkan dalam bentuk keping-keping padat berwarna kuning keemasan. Kandungannya sebagian besar adalah asam-asam diterpena, terutama asam abietat, asam isopimarat, asam laevoabietat, dan asam pimarat. Penggunaannya antara lain sebagai bahan pelunak plester serta campuran perban gigi, sebagai campuran perona mata (eyeshadow) dan penguat bulu mata, sebagai bahan perekat warna pada industri percetakan (tinta) dan cat (lak)

Gondorukem (resina colophonium) adalah olahan dari getah hasil sadapan pada batang tusam (Pinus). Gondorukem merupakan hasil pembersihan terhadap residu proses destilasi (penyulingan) uap terhadap getah tusam. Hasil destilasinya sendiri menjadi terpentin. Di Indonesia gondorukem dan terpentin diambil dari batang tusam Sumatera (Pinus merkusii). Di luar negeri sumbernya adalah P. palustris, P. pinaster, P. ponderosa, dan P. roxburghii.
Gondorukem diperdagangkan dalam bentuk keping-keping padat berwarna kuning keemasan.

Kandungannya sebagian besar adalah asam-asam diterpena, terutama asam abietat, asam isopimarat, asam laevoabietat, dan asam pimarat.
Penggunaannya antara lain sebagai bahan pelunak plester serta campuran perban gigi, sebagai campuran perona mata (eyeshadow) dan penguat bulu mata, sebagai bahan perekat warna pada industri percetakan (tinta) dan cat (lak).

Di Indonesia, komoditi ekspor ini dihasilkan oleh Perum Perhutani, terutama dari penanaman tusam di hutan pegunungan Jawa.

Terpentin
Terpentin adalah getah dari pohon Pinus (Pinus merkusii) yang kemudian diolah menjadi terpentin. Kegunaan terpentin adalah untuk bahan baku industri kosmetik, minyak cat, campuran bahan pelarut, antiseptik, kamfer dan farmasi.

Proses Pengolahan Getah Pinus
Dalam proses pengolahan Getah Pinus di Pabrik Gondorukem & Terpentin (PGT) Perum Perhutani, bahan baku  industri berupa Getah Pinus (Pinus Merkusii) diproses melalui beberapa tahapan :
1) Penerimaan & Pengujian Bahan Baku
2) Pengenceran
3) Pencucian & Penyaringan
4) Pemanasan/pemasakan
5) Pengujian& Pengemasan
Gondorukem dan Terpentin merupakan hasil distilasi/penyulingan dari getah Pinus. Gondorukem berupa padatan berwarna kuning jernih sampai kuning tua. Sedangkan Terpentin berbentuk cair berwarna jernih serta merupakan pelarut yang kuat.

Proses pengolahan getah menjadi gondorukem pada umumnya meliputi 2 tahapan :
-   Pemurnian getah dari kotoran-kotaran
-   Pemisahan terpentin dari gondorukem dengan cara distilasi/penguapan.

Proses pemurnian getah.
-  pengenceran getah dengan terpentin
-  pengambilan/penyaringan kotoran kasar
- pencucian & pemisahan kotoran halus dengan penyaringan maupun pengendapan.

Proses pemisahan gondorukem dari terpentinnya.
-   dilakukan dengan pemanasan langsung
-  dilakukan dengan pemanasan tidak langsung. (menggunakan uap)


Sumber : berbagai artikel










Tuesday, January 31, 2017

Owa Jawa Di Gunung Puntang Malabar : Lambang Kesetiaan yang Terancam Punah

Mengenal  Owa Jawa

Owa Jawa (Hylobates moloch) termasuk salah satu primata yang paling terancam kepunahan terutama dari hilangnya habitat akibat  pembukaan hutan untuk berbagai keperluan.  Sebab lain Owa Jawa kerapkali ditangkap  untuk  diperjual-belikan masyarakat. Organisasi konservasi  dunia  IUCN  memasukkan  Owa Jawa ke dalam kategori species terancam  (kepunahan) (EN, endangered species), dengan peluang sebesar 50%. Hewan ini akan dapat punah  dalam  satu decade mendatang.

Owa Jawa (Hylobates moloch) merupakan primata berukuran kecil (panjang tubuh hanya sekitar 80 cm) dan langsing (berat berkisar 4-8 kg) dengan bulu berwarna kecoklatan hingga abu-abu keperakan menutupi tubuhnya. Bagian atas kepala hingga muka berwarna hitam pekat dengan alis berwarna abu-abu, atau menyerupai warna bulu tubuh, sedang di bagian dagu beberapa individu berwarna lebih gelap. Owa Jawa tidak mempunyai ekor.


Owa Jawa kini hanya dapat ditemukan dalam jumlah kecil di kawasan konservasi di tiga taman nasional dan sekitar 30 cagar alam di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di Jawa Barat, Owa Jawa dapat ditemukan di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang menjadi salah satu benteng terakhir keberadaan satwa liar tersebut.

Di taman nasional seluas 15.000 hektar itu, Owa Jawa diperkirakan tinggal 300 ekor. Di di Pusat Rehabilitasi dan Penyelamatan Owa Jawa Bodogol (masih di wilayah TNGGP), dipelihara sejumlah Owa Jawa yang kemudian dilakukan upaya perjodohan diantaranya sebelum dilepas di alam liar. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan selain hewan yang bersifat monogami, Owa Jawa tidak akan dapat bertahan bila dilepas di hutan tanpa berpasangan karena terkait proses perkawinan dan perlindungan wilayah. (sains.kompas.com; Habitat Owa Jawa Dipulihkan; 26 April 2010)


Owa Jawa Adalah Simbol Kelestarian Hutan Dan Lambang Kesetiaan

Salah satu keanekaragaman hayati yang memiliki peran penting dalam memelihara fungsi ekosistem hutan tropis di pulau Jawa adalah owa jawa (Hylobates moloch).  Merupakan satwa primata endemik pulau Jawa,  sebagian besar populasi owa jawa saat ini mendiami hutan-hutan dataran rendah dan tinggi di Jawa bagian barat, dan hanya sebagian kecil ditemukan di  Jawa bagian tengah.
Sebagai primata arboreal yang melakukan seluruh aktivitas hidupnya di pohon,  kelangsungan hidup owa jawa di alam sangat bergantung pada tegakan pohon dengan tajuk menyambung. Dengan demikian, kehadiran owa jawa dapat dijadikan indikator kondisi hutan yang sehat dan terjaga baik. Selain itu,  sebagai satwa pemencar biji, owa jawa berperan penting menjaga siklus dan regenerasi ekosistem hutan.

Selain menjadi simbol kelestarian hutan, owa jawa juga menjadi model sistem sosial yang menjunjung tinggi nilai kesetiaan dan gotong-royong. Berbeda dengan sebagian besar primata, owa jawa menganut sistem perkawinan  monogami dan hidup dalam unit keluarga yang erat. Keluarga owa jawa terdiri dari sepasang induk dengan 1-3 anak yang dilahirkan setiap 2-3 tahun sekali. Bersifat teritori dan akan melindungi teritorinya dengan berbagai cara, di antaranya menggunakan suara oleh betina pada pagi hari (morning call). Sebagai pemakan buah atau frugivora, owa jawa mengandalkan dukungan setiap anggota keluarga untuk mencari dan mempertahankan sumber pakan yang memang lebih sulit diperoleh dibandingkan daun yang lebih melimpah. Dengan demikian, perburuan yang masih marak terjadi menjadi ancaman yang luar biasa bagi keberadaannya, mengingat penangkapan satu anak owa jawa juga berarti mengorbankan induk dan anggota keluarga yang lain.

Owa Jawa Dilindungi Undang-Undang

Meskipun owa jawa telah dilindungi oleh undang-undang, populasinya di alam terus menyusut. Selain kerusakan habitat, owa jawa di habitat alaminya juga terancam oleh aktivitas perburuan dan perdagangan untuk menjadikannya satwa peliharaan. Dalam Daftar Merah World Conservation Union (The IUCN Red List of Threatened Species) owa jawa dikategorikan sebagai satwa terancam punah (Endangered species) dan termasuk dalam daftar  Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menetapkan owa jawa sebagai salah satu satwa prioritas tinggi untuk di konservasi.  Strategi dan rencana aksi konservasi owa jawa yang dirumuskan para pemangku kepentingan pada bulan Nopember 2008, menghasilkan serangkaian rekomendasi aksi antara lain: konservasi in-situ dan ex situ, penelitian dan pengembangan, penegakan hukum,  pendidikan dan penyadaran konservasi, pendanaan konservasi. Salah satu  strategi konservasi yang  saat ini perlu dilakukan adalah menyelamatkan owa jawa dari perdagangan dan peliharaan masyarakat, dan mengembalikannya ke alam. Upaya rehabilitasi dan reintroduksi direkemendasikan para ahli primata dunia sebagai langkah strategis untuk menyelamatkan owa jawa dari kepunahan.


Habitat dan Populasi Owa Jawa

Habitat yang disukai Owa Jawa adalah hutan dataran rendah dengan pohon-pohon yang rapat. Sebagai kera pohon sejati (arboreal monkey), hampir sepanjang hidupnya Owa Jawa tidak pernah turun dari atas pohon. Namun meski demikian, primata ini justru termasuk jenis kera yang berjalan tegak, tidak menggunakan keempat tangan dan kakinya, melainkan hanya menggunakan kedua kakinya untuk berjalan. Owa Jawa termasuk jenis satwa diurnal (beraktifitas di siang hari). Makanannya meliputi buah-buahan, dedaunan, dan serangga. Dalam mencari makan, Owa Jawa selalu berpindah-pindah secara berkelompok menjelajah dari satu pohon ke pohon lainnya dalam daerah teritorialnya. Suara khas yang dikeluarkan Owa Jawa menjadi penanda wilayah teritorial suatu kawanan. Salah satu kelebihan primata ini adalah sifatnya yang monogami, yaitu hanya mempunyai satu pasangan semasa hidupnya. Dalam satu kesatuan keluarga selalu hanya di terdiri atas si jantan sebagai bapaknya, induk dan dua anak saja. Tidak pernah lebih. (www.conservation.org; Owa Jawa di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango; Anton Ario dkk (Editor); 2011)

Sayangnya, saat ini populasi Owa Jawa semakin menurun. IUCN (International Conservation Union of Nature) memasukkan primata ini dalam status konservasi “critical endangered species” alias terancam punah.

Pada tahun 2010, populasi Owa Jawa diperkirakan hanya tinggal 2.000 ekor saja di alam bebas. Penyebab utama semakin langkanya Owa Jawa adalah karena berkurangnya habitat yang diakibatkan oleh kerusakan hutan dan konversi hutan menjadi lahan pertanian. Kondisi hutan yang kritis menjadikan habitat Owa Jawa terfragmen (terpisah-pisah) sehingga mengakibatkan area jelajah primata ini menyempit serta tumpang tindih dengan kelompok Owa Jawa lainnya. Rantai regenenerasi pun akhirnya akan terputus karena Owa Jawa akan kesulitan untuk mengembangkan kelompoknya ataupun dipersatukan dengan kelompok Owa Jawa lainnya. Selain setia dengan pasangannya, Owa Jawa juga satwa yang setia dan mencintai wilayah teritorialnya sehingga meski wilayahnya habis terkikis, namun mereka akan tetap tinggal dan tidak mau berpindah. Kematian akibat kekurangan bahan makanan sulit dihindari dan hal ini semakin mempercepat berkurangnya populasi Owa Jawa. Selain itu, perburuan liar juga ikut andil memperburuk keadaan. Seringkali perburuan tersebut dilakukan  dengan cara menembak mati indukan dan kemudian mengambil anak Owa Jawa untuk dipelihara maupun diperdagangkan.


Pusat Rehabilitasi Owa Jawa

Salah satu yang peduli dengan keberadan owa jawa adalah Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa (Javan Gibbon Center/JGC) yang dikelola Yayasan Owa Jawa (YOJ) sejak tahun 2012.
JGC telah menerima owa Jawa yang berasal dari masyarakat sejak tahun 2003. Owa Jawa tersebut kemudian menjalani proses rehabilitasi cukup panjang untuk pemulihan kesehatan dan mengembalikan perilaku alaminya pasca dipelihara manusia dalam kandang. Sebagian besar owa jawa bahkan tidak mampu mengeluarkan nyanyian  panjang  (morning call) pada saat pertama kali tiba di JGC, padahal kemampuan tersebut sangat diperlukan  untuk menandai daerah tempat tinggalnya di alam.

Di JGC kemampuan bersuara,  bergerak di atas pohon, dan bersosialisasi dengan owa lain merupakan keahlian perilaku yang diaktifkan kembali setelah hilang di bawah pemeliharaan  masyarakat. Proses rehabilitasi Owa Jawa diperlukan agar saat  dikembalikan ke habitat alaminya dapat menyesuaikan dengan keadaan habitatnya.

Konservasi Owa Jawa ini merupakaan bagian dari upaya untuk mempertahankan kualitas kawasan hutan lindung melalui pengembangan spesies liar.  Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan ekosistem sumberdayahutan. Kawasan Hutan Lindung Gunung Malabar dipilih sebagai tempat pelepasliaran setelah melalui serangkaian survei kelayakan habitat untuk memastikan ketersediaan pohon pakan dan keamanan.

Program ini juga merupakan contoh public-private partnership yang dipercaya menjadi dasar pembangunan hutan berkelanjutan.

Keberadaan pusat rehabilitasi di beberapa wilayah konservasi Owa Jawa tentunya harus disadari tidak cukup besar efeknya dalam upaya melestarikan Owa Jawa. Sinergi yang baik antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah yang
mempunyai populasi Owa Jawa di wilayahnya terkait dengan kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada usaha pelestarian Owa Jawa diharapkan semakin solid. Selain itu, kepedulian seluruh lapisan masyarakat untuk ikut serta dalam usaha pelestarian ini sangat diharapkan.

Sebagai salah satu elemen bangsa yang sadar akan pelestarian kekayaan hayati di negeri ini, Perhutani ikut berperan aktif dalam menjaga keberadaan Owa Jawa, satwa lambang kesetiaan yang hampir punah.


Pelepasan Owa Jawa (Hylobates moioch) di Gunung Malabar dan Peran Perum Perhutani


Perhutani bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan dan Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa (Javan Gibbon Center/JGC) yang dikelola Yayasan Owa Jawa (YOJ) sejak tahun 2012

Pada tanggal 13 Agustus 2012, Direktur Utama Perum Perhutani, Dr. Ir. Bambang Sukmananto, MSc., dan Ketua Pembina Yayasan Owa Jawa (Hylobates moloch), Ir. Wahjudi Wardojo, MSc, telah menandatangani nota kesepahaman kerjasama pelestarian Owa Jawa, disaksikan oleh Direktur Jenderal Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan Ir. Darori, MM. Wahjudi menyatakan kerjasama dengan Perhutani memang mutlak diperlukan karena Owa Jawa hanya hidup di Pulau Jawa bagian barat hingga wilayah Pekalongan Selatan saja.

Sementara itu Dirjen PHKA Kementerian Kehutanan, Ir. Darori, MM., menyampaikan ucapan terima kasih atas peran Perhutani melindungi habitat Owa Jawa yang hampir punah. Sesuai PP No. 72 Tahun 2010 yang menyatakan bahwa Perum Perhutani diberi kewenangan yang cukup luas dalam mengelola sumber daya hutan dengan prinsip pelestarian dengan 3 aspek, yaitu people, planet dan profit.

Perhutani selama ini mengelola hutan bukan saja menangani profit, tetapi aspek konservasi sumberdaya alam hayati termasuk pelestarian satwa juga menjadi komitmen dan tanggungjawab Perhutani. 

Langkah Perhutani ikut serta melakukan tindakan nyata melestarikan eksistensi Owa Jawa merupakan sebuah wujud kepedulian dan rasa ikut bertanggung jawab dalam menjaga keseimbangan alam yang telah memberikan banyak hal terhadap kelangsungan peradaban. Kelestarian alam menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa, sehingga keanekaragaman hayati dan kekayaan alam negeri ini masih dapat dilihat dan dinikmati anak cucu kita di kemudian hari.

Konservasi owa jawa di Hutan Lindung Malabar wilayah Perhutani merupakan salah satu bentuk tanggungjawab Perum Perhutani dalam melestarikan satwa kebanggaan Indonesia melalui pengelolaan hutan lestari.

Dengan adanya keluarga Owa Jawa ini, hutan lindung Gunung Malabar dapat dikembangkan sebagai salah satu kawasan wisata minat khusus yang mendatangkan manfaat langsung bagi masyarakat di sekitarnya.

Ketua pengurus Yayasan Owa Jawa Noviar Andayani, upaya konservasi owa jawa di tengah tekanan pembangunan ekonomi Pulau Jawa bukan perkara mudah. Dukungan semua pihak untuk menyelamatkan primata ini dari kepunahan sangat diperlukan. Program konservasi ini dapat menjadi contoh kemitraan yang kuat antara penggiat konservasi dengan sektor bisnis, pemerintah daerah dan masyarakat.


Perum Perhutani  telah melepasliarkan untuk ke empat kalinya sebanyak 13 ekor ke habitat alami di Gunung Puntang kawasan Hutan Lindung Gunung Malabar Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Pelepasan Owa Jawa  :
1)    15 Juni 2013 telah dilepasliarkan sepasang Owa Jawa bernama Kiki dan Sadewa
2)    27 Maret 2014 dilepasliarkan satu keluarga Owa jawa, Bombom (betina), Jowo (jantan) dan kedua anak mereka Yani (betina) dan Yudi (jantan) 
3)    24 April 2015 bertepatan dengan penutupan Konfrensi Asia Afrika dilepasliarkan ke tiga kalinya dua pasang Owa Jawa, yaitu pasangan pertama Robin (jantan) dan Moni (betina) dan pasangan kedua Moli (jantan) dan Nancy (betina)
4)    10 Agustus 2016 dilepasliarkan satu keluarga Owa jawa, Mel (Betina), Pooh (Jantan) dan Asri (Betina)

Jumlah owa jawa yang dilepasliarkan sebanyak 13 ekor  :
2013  : 2 ekor  ( 1 pasang)
2014  : 4 Ekor  (1 pasang dan 2 Anak)
2015  : 4 Ekor  (2 pasang)
2016  : 3 Ekor  (1 pasang dan 1 Anak)









Dari berbagai Sumber  : www.perhutani.co.id , Majalah Duta Rimba