Minggu, 19 September 2010

Belajar Hidup Dari Pohon Jati



Pohon jati mempunyai filosofi yang sangat mendalam dan sangat relevan untuk dapat kita terapkan untuk melengkapi renungan dalam jiwa  kita.
Biji Keras menghasilkan Kayu yang kuat (Kelas Kuat I dan Kelas Awet II).  Biji merupakan awal mula (dasar) tumbuhnya sebuah pohon jati. Makin bagus biji yang kita tanam maka makin bagus juga kualitas pohon Jati yang akan kita dapatkan.
Begitu juga dalam kehidupan, kita harus mempunyai dasar yang kuat, untuk tahu memposisikan diri kita sebagai mana mestinya Minimal kita harus mempersiapkan mental untuk berani keluar dari zona nyaman dan meruntuhkan blocking/tekanan mental kita, Selain itu kita juga harus siap mental jika sewaktu-waktu kita harus jatuh ataupun mengalami kemunduran, jangan sampai hal tersebut merontokan mental kita, akan tetapi sebaliknya jadikanlah sebagai sarana belajar dan evaluasi untuk bangkit lagi, agar kejadian yang sama tidak terulang kepada kita.

Mengapa Pohon Jati begitu menarik ? Jati memang bisa tumbuh pada tanah yang tandus sekalipun dan bisa bertahan hidup pada lokasi dengan curah hujan yang sangat rendah, kebalikanya justru ditempat yang curah hujannya tinggi perkembangannya kurang baik disamping pertumbuhannya juga kualitas kayunya kurang bagus. Kayu Jati di Jawa Timur dan Jawa Tengah lebih baik dari Jawa Barat karena di Jawa Barat curah hujannya tinggi.


Jadi kita harus mampu bertahan hidup dalam situasi yang serba sulit dan serba kekurangan sumberdaya yang dianggap orang lain sulit untuk bertahan hal tersebut untuk menunjukan kualitas kita. Kalau kita dimanjakan dengan sumberdaya yang melimpah maka kita tidak akan berkembang dan kualitas kita tidak akan teruji.
Seperti yang diuraikan diatas, banyak manfaat dari pohon jati seperti kayu, ranting untuk kayu bakar, daunnya untuk bungkus, bahkan serangganya (ulat jati, kepongpong dan belalang) bisa dimakan bahkan ulat Jati katanya mempunyai kadar protein yang sangat tinggi.
Artinya seluruh potensi hidup kita (langkah kita, suara kita, tangan kita, mata kita) harus bermanfaat bagi semua orang disekeliling kita walaupun kita hidup di tempat yang sangat terbatas sumberdayanya. Kendatipun ada benalu/yang memanfaatkan kita atau yang ikut hidup pada diri kita, harus kita yakini bahwa mereka bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan kita.


Gambar : Jati mengugurkan daun pada musim kemarau
Pada musim kemarau jati mengugurkan daun 

Jati yang tumbuh dengan gagah dan kuat ternyata tidak sombong dan sangat toleren terhadap tumbuhan kecil disekelilingnya dan memberikan ruang tumbuh pada tumbuhan untuk berkembang pada separuh dari hidupnya. Jati melakukan semedi minimal 6 bulan setiap tahunnya agar kualitas kayunya semakin baik.
Segagah apapun kita selayaknya memberikan ruang untuk berkembangnya orang lain dibawah kita (baik dari sisi jabatan atau pola hidup / si kaya dan si miskin) agar mereka mampu bertahan hidup dan menghidupi lingkungannya.
Apakah kita mampu memberikan separo hidup kita untuk berkembangnya orang lain, seperti jati yang gugur daun pada musim kemarau dan tumbuh lagi pada musim hujan.


Menurut hasil penelitian kayu teras berwarna kecoklatan pada lingkaran tahun semakin baik kualitasnya apabila kemaraunya lebih lama dari musim hujan.
(catatan : apabila kayu kita potong melintang terdapat lingkaran tahun yang disebut kayu teras terbentuk pada musim kemarau dan kayu glubal warnanya coklat terang / agak putih yang terbentuk pada musim hujan).


Artinya seharusnya disaat sumberdaya kita minimal harus kita tunjukan kualitas kita sebagai manusia yang bermanfaat.


Untuk sampai masak tebang jati membutuhkan waktu paling tidak 40 tahun, bahkan di jawa Timur dan Jawa Tengah daur Jati mencapai 60 tahun dan ada yang 80 tahun. Jadi kayu jati yang kita gunakan saat ini adalah kayu-kayu yang ditanam oleh pendahulu kita, yang mungkin sekarang sudah tidak ada di dunia ini lagi. dan apabila kita menanam tidak mungkin kita akan ikut memanennya.


Ini mengajarkan kepada kita bahwa kita harus menghargai jerih payah pendahulu kita dalam menyiapkan kebahagiaan bagi hidup kita dan begitupun selanjutnya kita harus menyiapkan agar generasi kita nanti kita perlakukan dengan hal yang sama untuk menyongsong kebahagian bagi mereka.
Banyak dilakukan upaya oleh para peneliti kita dengan teknologi dan hasil penelitiannya untuk memperpendek daur jati (katanya bisa 15 tahun) dengan kualitas yang sama dengan daur / masak tebang umur 60 tahun dan 80 tahun.


Pertanyaannya mampukah kita dengan kondisi yang dimanjakan oleh semua elemen di lingkungan kita menyumbangkan pemikiran dan sumberdaya kita secepatnya pada lingkungan kita dengan kualitas yang sama ?




Dipersembahkan untuk para pemerhati lingkungan
posting oleh : Dadang Kadarsyah Rizal
2 September 2009


Sekilas tentang pohon Jati
Pohon Jati dengan nama latin tecnona grandis atau Teak (bahasa inggris) menjadi sering menjadi inspirasi penulisan karya-karya sastra seperti puisi, roman, dll. Banyak juga orang memberi nama anaknya dengan tectona atau grandis
Jati menurut kamus adalah sejenis pohon penghasil kayu, Berdaun besar, yang gugur di musim kemarau. bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40
Pohon jati (Tectona grandis) dapat tumbuh meraksasa selama ratusan tahun dengan ketinggian 40-45 meter dan diameter 1,8-2,4 meter. Namun, pohon jati rata-rata mencapai ketinggian 9-11 meter, dengan diameter 0,9-1,5 meter. Kayu jati terbaik biasanya berasal dari pohon yang berumur lebih daripada 80 tahun.

Jati menyebar luas mulai dari india, Myanmar, Laos. Kamboja, Thailand sampai ke Jawa. Jati tumbuh di hutan-hutan gugur, yang menggugurkan daun di musim kemarau.

Saat ini, sebagian besar lahan hutan jati di Jawa dikelola oleh Perhutani, sebuah perusahaan umum milik negara di bidang kehutanan. Luas lahan hutan Perhutani mencapai hampir seperempat luas Pulau Jawa. Luas lahan hutan jati Perhutani di Jawa mencapai sekitar 1,5 juta hektar. Ini nyaris setara dengan setengah luas lahan hutan Perhutani atau sekitar 11% luas Pulau Jawa.


Manfaat Pohon Jati
Jati digunakan sebagai bahan baku pembuatan kapal laut, Juga dalam konstruksi berat seperti jembatan dan bantalan rel. Di dalam rumah sebagai bahan baku furniture, kayu jati digunakan pula dalam struktur bangunan. Rumah-rumah tradisional Jawa, seperti rumah joglo Jawa Tengah, menggunakan kayu jati di hampir semua bagiannya: tiang-tiang, rangka atap, hingga ke dinding-dinding berukir. Dalam industri kayu sekarang, jati diolah menjadi venir (veneer) untuk melapisi wajah kayu lapis mahal; serta dijadikan keping-keping parket (parquet) penutup lantai. Selain itu juga diekspor ke mancanegara dalam bentuk furniture luar-rumah.

Ranting-ranting jati yang tak lagi dapat dimanfaatkan untuk mebel, dimanfaatkan sebagai kayu bakar kelas satu. Kayu jati menghasilkan panas yang tinggi, sehingga dulu digunakan sebagai bahan bakar lokomotif uap.

Sebagian besar kebutuhan kayu jati dunia dipasok oleh Indonesia dan Myanmar.

Daun jati dimanfaatkan secara tradisional di Jawa sebagai pembungkus, termasuk pembungkus makanan. Nasi yang dibungkus dengan daun jati terasa lebih nikmat. Contohnya adalah nasi jamblang yang terkenal dari daerah Jamblang, Cirebon.
Daun jati juga banyak digunakan di Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai pembungkus tempe.

Berbagai jenis serangga hama jati juga sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan orang desa. Dua di antaranya adalah belalang jati (Jw. walang kayu), yang besar berwarna kecoklatan, dan ulat-jati (Endoclita). Ulat jati bahkan kerap dianggap makanan istimewa karena lezatnya. Ulat ini dikumpulkan menjelang musim hujan, di pagi hari ketika ulat-ulat itu bergelantungan turun dari pohon untuk mencari tempat untuk membentuk kepompong (Jw.ungkrung). Kepompong ulat jati pun turut dikumpulkan dan dimakan.

Perlunya memikirkan kelanjutan pengembangan pohon Jati
Kayu jati sangat terkenal untuk berbagai penggunaan karena kekuatan dan keawetannya. Namun karena pertumbuhannya sangat lambat menyebabkan keseimbangan antara penyediaan kayu jati dan kebutuhan industrinya menjadi tidak seimbang. Dua upaya dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut :
1. Memperpendek daur
2. Menanam klon unggulan yang tumbuh lebih cepat.


Lambat tapi pasti akhirnya klon unggul jati terbaik didunia (JPP) telah diketemukan oleh para rimbawan Puslitbang Perhutani yang telah dengan tekun dan tanpa mengenal lelah menjalankan tugasnya.
Pengujian selama 5 tahun adalah sama dengan 1/3 dari daur jati 15 tahun Secara kebetulan kurva sigmoid ( kurva pertumbuhan jati ) meningkat sampai dengan umur 10 – 15 tahun. Artinya bila dibiarkan lebih tua lagi berarti perolehan kayu karena pertumbuhan jati tiap tahun akan berkurang. Bila daur ditetapkan berdasar ”pertumbuhan maksimal” yang dipakai (15 tahun) maka pemakaian klon terbaik yang telah diketemukan menjadi paling kompetitif


Gambar :
Pohon Jati termahal di dunia, 1 pohon seharga 1 milyar (masuk rekor dunia), Pembeli : Saekoni


Mediator: Arini Ambarwati Wibowo
Pelunasan: 13 September 2007
Model Transaksi: Lelang Khusus, harga awal: Rp250 juta, volume batang: Taksasi Produksi Kayu 62,213 m3 (meter kubik), Nomor Pohon : 1130 dari 1766 pohon, Tinggi Batang: 42,1 meter, Lingkaran Pangkal Pohon: 700 Centimeter, Umur Pohon: 150 Tahun Lebih.
Tempat Tumbuh: Petak Hutan Nomor 1092 a, Luas Petak: 25,4 Ha. Tingkat Kesuburan Tanah: Bonita 4,5 berada Resort Pemangkuan Hutan (RPH): Temengeng, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH/Asper): Pasarsore Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH): Cepu
Alasan Penjualan : Pohon mati akibat sambaran petir


Diposting di blogku yang lama dk-rizal.blogspot.com      tgl 1 September 2009



2 komentar:

  1. Pengunjung Blog yang terhormat,....
    komentar2 blog yang dulu terhapus....
    karena saya menggunakan "shoutmix", namun shoutmix sekarang ditutup mulai Nopember 2011 khusus untuk yang free jd harus berbayar.
    Untuk sekarang sy pake Java Script, mudah2an bisa gratisan terus

    BalasHapus